Karya : Moh. Badri Tamam

Disebuah desa yang indah hiduplah seorang anak dari seorang petani dimana orang tuanya sakit struk sejak dia kelas 6 MI, dia bercita cita untuk melanjutkan kuliah nantinya disuatu perguruan tinggi setelah lulus MA, tapi dalam hatinya dia berkata impiannya tidak mungkin terlaksana karena tidak ada yang mampu membiayai.

Kita sebut saja namanya Badri, badri adalah siswa kelas akhir di madrasah hidayatul ulum  di daerahnya yang baru saja dinyatakan lulus pada tahun 2014, Sebelum pengumuman UN badri dan ayahnya sempat berbicara mengenai kelanjutan pendidikannya, karena faktor ekonomi yang kurang mampu bahakan tidak bisa membiayai badri. Bahkan tetangganya sudah mengucilkan badri mau kemana orangtuanya saja sudah sakit terus siapa yang mau membiayainya kan lebih baik buat beli obat ayahnya, itulah yang setiap hari badri dengar dari tengganya.

Satu bulan, adalah pengumuman kelulusan calon mahasiswa baru yang mendaftar di gelombang pertama disalah satu Universitas yang ada di pamekasan, saat badri ngaji kitab di Madrasahnya dia di telfon temannya Lantas badri bingung sambil menatap kitab jurmianya, seraya memikirkaan bagaimana caranya mengambil kesempatan ini setelah adanya keputusan sebelumnya bahwa badri dan orangtuanya sepakat badri tidak melanjutkan pendidikan tahun ini.


“Assalamualaikum… maaf ini siapa?”. Tanya badri
“kamu dimana dek?, ini saya kakaknya kamu jufri, ayoo kaluar mau daftar kuliah kakak yang bantu” ujar kak jufri.
“iya kak, iya, sebentar ya kak saya mau pulang dulu kak.

Dengan langkah tergesa-gesa badri mengganti pakaian dan keluar kamar. Melihat badri tergesa-gesa orangtua Badri bingung ada apa sebenarnya, begitu hendak keluar Ayah dan ibu bertanya, “kamu kenapa? ada apa? ini kamu mau kemana?” dengan tergesa-gesa Badri menjawab “saya mau jumpain kak jufri saya ingin kuliah Ayah” jawab Badri dan minta doanya badripun dikasih uang 200 ribu untuk biaya pendaftaran tanpa uang saku karena orang tua badri juga orang yang tidak mampu.

Di perjalanan badri hanya berpikiran bagaimana cara membayar uang kuliah setiap semester sedangkan ayahnya tidak bisa membiayainya. Bermodal bismillah dia daftar dan negmbil jurusan system informasi fakultas teknik, hari demi hari dia lewati sampai di masa ORDIK ayahnya badri ngamar di rumah sakit umum yang ada di pamekasan. Namun badri tetap sabar menghadapi semua.

Badri hanya berdoa jika Allah menguji badri tolong kuatkanlah hati badri, karena dia yakin Allah tidak akan mneguji mahkluknya melebihi batas kemampuannya.

Satu semester sudah dilewati , namun badri tetap gelisah dengan uang semesteran, untuk  membayar uang kuliahnya badri dapat informasi bahwa setiap DPRD dapat jatah 6 beasiswa, setelah dapat informasi itu badri dengan cepat  menghubungi DPRD yang ada didesanya, setelah dihubungi badri menanyakan mengenai informasi beasiswa melalui via Telpon dan  SMS, jam demi jam dia menunggu  sampai dia berharap mungkin besok akan di respon, tapi setelah satu minggu tidak ada respon diapun memutuskan untuk tidak menghubungi lagi mungkin karena badri anak dari seorang petani yang sakit struk. Perjuangan dia sia sia untuk mendapatkan beasiswa.

Pada saat badri liburan kuliah tapi badri tetap tidak pulang karena mnegrjakan tugas, diapun mendapat telpon dari mbknya bahwa sapinya mati karena kena penyakit badri saat itu berada dirumah temannya mengerjakan tugas, sebut saja namanya vildan dia temannya badri

“ Badri, kenapa kamu kok merah matanya?” tanya vildan, “diapun menjawab tidak ada apa apa kok hanya pengen pulang saja”.

Emangnya sudah berapa lama tidak pulang ?”Tanya vildan, “3 bulan cuman dan”.

Setelah pulang tiba dirumahnya badripun di sambut dengan tangisan dari ayah dan ibunya, tapi dia tetap sabar biar keadaannya ayahnya tidak makin parah, diapun berusaha menahan kesedihannya. Tapi setelah ada dikamarnya dia menangis juga karena dia kasihan ke ibunya yang setipa hari cari rumput kekebun  dari sapinya yang kecil sampai besar tapi setelah besar mati begitu saja.

hari demi hari badri gelisah, setelah pembayarannya nunggak setengah semester badripun dapat informasi di papan informasi kampus bahwa di buka beasiswa PPA. Diapun bergegas mencari persyratannya untuk melengkapi dukumen yang dibutuhkan,setelah daftar badri cuman berkata saya sudah berusaha dan sudah diiringi doa “The Power Of Doa” dan distulah badri mendapatkan beasiswa kampus yang meringankan beban dia selama ini. Orang tuanya sangat bahagia setelah anaknya dapat beasiswa dari kampus. Badri tidak hanya dapat beasiswa kampus tapi diluarkampus juga mendapatkannya dan yang diluarkampus untuk beli laptop karena jurusannya membutuhkan laptop yang lumayan mendukung ke aplikasinya.

Hari demi hari tepat pada tahun 2017 badri kehilangan Hp yang baru di beli denga hasil nabung hanya ingin beli hp dan pengen bisa BBMan sama temannya. Tapi dia tidak bilang keorang tuanya kalau hpnya hilang di ambil orang di kosannya. Dari situlah badri di panggil dosennya sekaligus Dekan Fakultas teknik. Beliau hanya bilang sabar insyaAllah, Allah pasti akan ganti dengan lain. Dari sana badri disuruh melamar untuk mengurus laboratorium Fakultas teknik di kampus saya, Alhamdulillah badri dikasih kesempatan untuk bisa mengemban amanah yang selama ini tidak dia duga. Dari situlah badri bekerja dengan ikhlas dan Alhamdulillah hp yang hilang bisa tergantikan dan juga bias nyicil uang kuliah sendiri sampai di tahun 2018 badri Wisuda dengan mendapatkan nilai ‘cumlaude” denga IPK 3,53 dengan menyandang gelar S.Kom, dari situlah badri belajar bahwa kekuatan doa orang tua, guru teman itu melebihi dari segala galanya dan siapa yang bersungguh sungguh pasti dia mendapatkannya. Insyaallah semoga kita sukses semua. Aamiin

“The Power Of Doa And Action”

By : Moh. Badri Tamam