Empat pilar literasi digital ini adalah suatu gerakan yang tidak bisa dikerjakan oleh satu institusi, semuanya harus terlibat. Karena dalam transformasi digital semua orang harus dibekali dan mampu bertransformasi sehingga tidak ada yang tertinggal
Sementara itu, Direktur Sekolah Dasar Kemendikbud, Sri Wahyuningsih juga mengatakan literasi digital harus terus menerus digaungkan, termasuk kepada anak usia sekolah, guru, hingga orang tua
Ia mengungkapkan, teknologi saat ini sangat membantu proses belajar di situasi pandemi. “Kami mengimbau kepada para orang tua agar dapat mendampingi pemilihan konten dan memberikan pemahaman etika yang baik dalam mengakses pembelajaran secara lebih intensif,” katanya
Sri mengatakan anak-anak lebih adaptif dan dampak teknologi tidak sederhana, sehingga guru dan orang tua harus bisa menjelaskan cara mengakses ruang digital yang baik. “Hal ini dipersiapkan agar anak-anak kita bisa menjadi SDM yang unggul nantinya.
Digital skill berkaitan dengan kemampuan individu dalam mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras, perangkat lunak serta sistem operasi digital dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Selanjutnya ada digital culture merupakan bentuk aktivitas masyarakat di ruang digital dengan tetap memiliki wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, dan kebhinekaan.
“Dasarnya adalah banyak masyarakat yang merasa ruang digital tidak ada aturannya, berbeda ketika di ruang fisik yang memiliki tata krama. Kita ingin tumbuhkan kembali bahwa ruang digital dan fisik tidak berbeda,” tambahnya.
Sementara itu, digital ethics adalah kemampuan menyadari mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquette) dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenai digital safety, Semuel menyebutnya sebagai kemampuan masyarakat untuk mengenali, menerapkan, meningkatkan kesadaran perlindungan data pribadi dan keamanan digital.
“Empat hal ini tertuang dalam Roadmap Literasi Digital 2023-2027 yang sedang disusun oleh Kementerian Kominfo,”
Tidak ada komentar