Di kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Madura ini, masyarakat tetap memperingati hari besar Islam tersebut seperti biasa. Bahkan di Desa Pragaan Daya, Kecamatan Pragaan, Maulid Nabi dirayakan secara bergiliran dari rumah ke rumah, dimulai pada tanggal 1 bulan Maulid 1444 H. 

"Maulid Nabi di tempat kami umumnya tidak hanya dilakukan di mushala, masjid atau di lembaga dan instansi tertentu. Namun, di setiap rumah warga pasti merayakan. Jadi hampir setiap malam kami baca barzanji memperingati maulid Nabi," ujar Khozin, salah satu masyarakat di desa Tariqul jannah tersebut.

Pengasuh Musholla Thoriqul Jannah ini juga menjelaskan perihal budaya maulid di desa kelahirannya. Warga hanya diperbolehkan menghadiri acara maulid jika mendapat undangan khusus dari tuan rumah.

Sementara itu, masyarakat sudah meyakini bahwa peringatan Maulid Nabi merupakan langkah mulia untuk menghormati Rasulullah. "Pertama, sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya insan mulia yaitu baginda Nabi Muhammad SAW. Kedua, dengan membaca shalawat kami mengharap syafaat beliau kelak di hari kiamat. Ketiga, kami ingin menunjukkan rasa cinta kami pada Kanjeng Nabi dengan cara bersedekah, berbagi antar sesama," ujar K. Sadruki, salah satu kiai di kampung tersebut.