Madura menyimpan sejuta pesona Kalau dihitung dari Bangkalan, ujung dari Jembatan Suramadu,
perjalanan menuju Pulau garam sumsnep bisa ditempuh lima jam dengan kendaraan
bermotor. Jauh juga sih, tetapi untungnya sepanjang jalan kamu gak akan
merasa bosan.
Saat mulai memasuki wilayah Kabupaten Sumenep, hamparan ladang garam
yang indah akan menyambut kamu. Pemandangan ini bikin kamu percaya bahwa
Madura memang sesuai banget dijuluki Pulau Garam.
Terus menyusur jalur sejajar tepian laut, mata bebas memandang laut
yang kebiruan. Beberapa kali, pulau-pulau kecil yang masih masuk wilayah
administratif Kabupaten Sumenep menyembul di batas cakrawala. Sabar
sedikit dan kawasan pulau garam sudah di depan mata. Pemandangan petambak garam yang sedang mengambil kristal putih yang bersih sudah memanjakan mata. Walau
hari Minggu, tetapi garam tetap bekerja. Air lautnya yang biru
kristal dan bersih berbatasan langsungpetambakdengan Laut Jawa. Ditambah gazebo
yang memang disediakan buat pengunjung, suasana Pantai palau garam bak
surga pribadi.
Konon, munculnya petambak garam di Madura berawal pada abad ke-15 saat para prajurit kerajaan di Bali menyerang Pulau Madura.
Saat itu, prajurit Bali kalah dari prajurit Madura. Kemudian, karena terdesak akhirnya mereka meminta pengampunan.
Di antara pemimpin prajurit Bali yang terdesak tersebut, salah satunya bernama Anggasuto.
Anggasuto inilah yang pertama kali memiliki gagasan mengkristalisasi
air laut untuk dijadikan butir-butir garam dengan memanfaatkan lahan di
pinggir pantai dan sinar matahari yang menyengat.
Sejak dulu, garam memang menjadi salah satu bumbu dapur yang
potensial maka usaha mengeringkan air laut ini akhirnya menjadi lahan
bisnis sampai sekarang.
Lahan yang dijadikan sebagai tambak garam di Madura terletak di
pantai selatan Kabupaten Sumenep. Lahannya
terbagi dalam petak-petak. Dari masing-masing petak
bisa dihasilkan sedikitnya 10 ton garam selama satu periode, dengan
masa panen sejak air dialirkan adalah 28-30 hari.
Proses pembuatan garam secara tradisional prinsinya sangat mudah. Air
laut yang telah diendapkan dan dibersihkan dari lumpur, dialirkan ke
dalam petak-petak yang telah disiapkan.
Setelah kurang lebih berumur 28-30 hari, air laut akan mengering dan
tinggal garam yang masih bercampur sedikit air. Setelah benar-benar
mengkristal dalam rentang waktu itu, maka garam sudah siap untuk
dipanen.
Cahaya matahari dipergunakan untuk menguapkan air laut senghingga
tinggal tersisa kristal-kristal garam, sedangkan angin dengan bantuan
kincir angin dipergunakan untuk memompa air masuk ke lokasi tambak.
Tidak ada komentar